Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Autisme

.
.

dr. Suparyanto, M.Kes

Laporan Pendahuluan

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Autisme



Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Autisme . Berikut ini artikel x-asuhan keperawatan yang berjudul Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Autisme





1.  DEFINISI             Autisme merupakan ganguan perkembangan fungsi otak yang mencakup bidang sosial dan afek, komunikasi verbal (bahasa) dan non – verbal, imajinasi, fleksibilitas, lingkup interest (minat), kognisi dan atensi. Ini suatu kelainan dengan ciri perkembangan terlambat atau yang abnormal dari hubungan sosial dan bahasa.

Autisme adalah suatu gangguan perkembangan yang kompleks, yang biasanya muncul pada usia 1-3 tahun.Tanda-tanda autisme biasanya muncul pada tahun pertama dan selalu sebelum anak berusia 3 tahun.Autisme 2-4 kali lebih sering ditemukan pada anak laki-laki.

2.  ETIOLOGI

Banyak pakar telah sepakat bahwa pada otak anak autisme dijumpai suatu kelainan pada otaknya. Ada tiga lokasi diotak yang ternyata mengalami kalainan neuro– anatomis. Apa sebabnya sampai timbul kelainan tersebut memang belum dapat dipastikan. Banyak teori yang diajukan oleh para pakar, kekurangan nutrisi dan oksigenasi, serta akibat polusi udara, air dan makanan. Diyakini bahwa ganguan tersebut terjadi pada fase pembenukan organ – organ (organogenesis) yaitu pada usia kehamilan antara 0 – 4 bulan. Organ otak sendiri baru terbentuk pada usia kehamilan setelah 15 minggu.

            Dari penelitian yang dilakukan oleh para pakar dari banyak negara diketemukan beberapa fakta yaitu adanya kelainan anatomis pada lobus patietalis, cerebellum dan sistem limbiknya. 43 % penyandang autisme mempunyai kelainan pada lobus parietalis otaknya, yang menyebabkan anak cuek terhadap lingkungannya.

            Kelainan juga ditemukan pada otak kecil (cerebellum), terutama pada lobus ke VI dan VII. Otak kecil bertanggung jawab atas proses sensoris, daya ingat, berfikir, belajar berbahasa dan proses atensi (perhatian). Juga didapatkan jumlah sel Purkinye di otak kecil yang sangat sedikit, sehingga terjadi gangguan keseimbangan serotonin dan dopamine, akibatnya terjadi gangguan atau kekacauan lalu – lalang impuls di otak.

            Ditemukan pula kelainan yang khas didaerah sistem limbik yang disebut hippocampus dan amygdale. Akibatnya terjadi gangguan fungsi kontrol terahadap agresi dan emosi. Anak kurang dapat mengendalikan emosinya, seringkali terlalu agresif atau sangat pasif. Amygdala juga bertanggung jawab terhadap berbagai rangsang sensoris seperti pendengaran, penglihatan, penciuman, perabaan, rasa dan rasa takut. Hippocampus bertanggung jawab terhadap fungsi belajar dan daya ingat. Terjadilah kesulitan penyimpanan informasi baru. Perilaku yang diulang – ulang yang aneh dan hiperaktif juga disebabkan gangguan hippocampus.

           

            Faktor genetika diperkirakan menjadi penyebab utama dari kelainan autisme, walaupun bukti – bukti yang konkrit masih sulit ditemukan. Memang ditengarai adanya kelainan kromosom pada anak autisme, namun kelainan itu tidak berada pada kromosom yang selalu sama. Penelitian masih terus dilakukan sampai saat ini. Disamping faktor genetika ini, diperkirakan masih banyak faktor pemicu yang berperan dalam timbulnya gejala autisme. Pada kehamilan trimester pertama, yaitu 0 – 4 bulan, factor pemicu ini bias terdiri dari : infeksi ( toksoplasmosis, rubella, candida, dsb) logam berat (Pb, Al, Hg dan Cd), zat adiif (MSG, pasawat, pewarna, dsb), alergi berat, obat – obatan, jamu peluntur, muntah – muntah hebat (hiperemesis) perdarahan berat, dll. Pada proses kelahiran yang lama (partus lama) dimana terjadi gangguan nutrisi dan oksigenasi pada janin, pemakaian forsep, dll dapat memicu terjadinya austisme. Bahkan sesudah lahir (post partum) juga dapat terjadi pengaruh dari berbagai pemicu, misalnya : infeksi ringan – berat pada bayi, imunisasi MMR dan hepatitis B (mengenai 2 jenis imunisasi ini masih controversial), logam berat, MSG, zat pewarna, zat pengawet, protein susu sapi (kasein) dan protein tepung terigu (gluten). Tumbuhnya jamur yang berlebihan di susu anak sebagai akibat dari pemakaian antibiotika yang berlebihan, dapat menyebabkan terjadinya ‘kebocoran’ usus (leaky – get syndrome) dan tidak sempurnanya pencernaan kasein dan gluten. Kedua protein ini hanya terpecah sampai polipeptida. Polipeptida yang timbul dari kedua protein tersebut terserap kedalam aliran darah dan menimbulkan ‘efek morfin’ pada otak anak.

            Masih ada sesuatu kelainan yang disebut sebagai Sensory Interpretation Errors yang juga menyebabkan terjadinya gejala autisme. Rangsangan sensoris yang berasal dari reseptor visual, auditori dan taktil, mengalami proses yang kacau di otak anak, sebagai timbul persepsi yang semrawut, kacau atau berlebihan, yang pada akhirnya menyebabkan kebingungan dan ketakutan pada anak. Akibatnya anak menarik diri dari lingkungan yang “menakutkan” tersebut.

3.   GEJALA

Gejala dapat dibagi atas gejala

·         Gangguan perilaku dan

·         Gangguan intelektual, dan

·         Dapat disertai oleh gangguan fisik.



Kecerdasan sering diukur (eses) melalui perkembangan non – verbal, karena terdapat gangguan bahasa. Didapatkan IQ dibawah 70 pada 70 % penderita, dan dibawah 50 pada 50 %. Namun sekitar 5 % mempunyai IQ diatas 100.

Sifat-sifat lainnya yang biasa ditemukan pada anak autis:

·         Sulit bergabung dengan anak-anak yang lain

·         Tertawa atau cekikikan tidak pada tempatnya

·         Menghindari kontak mata atau hanya sedikit melakukan kontak mata

·         Menunjukkan ketidakpekaan terhadap nyeri

·         Lebih senang menyendiri, menarik diri dari pergaulan, tidak membentuk hubungan pribadi yang terbuka

·         Jarang memainkan permainan khayalan

·         Memutar benda

·         Terpaku pada benda tertentu, sangat tergantung kepada benda yang sudah dikenalnya dengan baik

·         Secara fisik terlalu aktif atau sama sekali kurang aktif

·         Tidak memberikan respon terhadap cara pengajaran yang normal

·         Tertarik pada hal-hal yang serupa, tidak mau menerima/mengalami perubahan

·         Tidak takut akan bahaya

·         Terpaku pada permainan yang ganjil

·         Ekolalia (mengulang kata-kata atau suku kata)

·         Tidak mau dipeluk

·         Tidak memberikan respon terhadap kata-kata, bersikap seolah-olah tuli

·         Mengalami kesulitan dalam mengungkapkan kebutuhannya melalui kata-kata, -lebih senang meminta melalui isyarat tangan atau menunjuk

·         Jengkel/kesal membabi buta, tampak sangat rusuh untuk alasan yang tidak jelas

·         Melakukan gerakan dan ritual tertentu secara berulang (misalnya bergoyang-goyang atau mengepak-ngepakkan lengannya)

·         Anak autis mengalami keterlambatan berbicara, mungkin menggunakan bahasa dengan cara yang aneh atau tidak mampu bahkan tidak mau berbicara sama sekali. Jika seseorang berbicara dengannya, dia akan sulit memahami apa yang dikatakan kepadanya. Anak autis tidak mau menggunakan kata ganti yang normal (terutama menyebut dirinya sebagai kamu, bukan sebagai saya).

·         Pada beberapa kasus mungkin ditemukan perilaku agresif atau melukai diri sendiri.

·         Kemampuan motorik kasar/halusnya ganjil (tidak ingin menendang bola tetapi dapat menyusun balok).

4.  KARAKTERISTIK.

Anak austik mempunyai masalah/ gangguan dalam bidang :

a .  Komunikasi
Perkembangan bahasa lambat atau sama sekali tidak ada
Anak tampak seperti tuli, sulit berbicara atau pernah berbicara tapi kemudian sirna
kadang kata – kata yang digunakan tidak sesuai artinya
Mengoceh tanpa arti berulang – ulang, dengan bahasa yang tidak dapat dimengerti orang lain
Bicara tidak dipakai untuk alat komunikasi
Senang meniru atau membeo (echoladia)
Bila senang meniru hafal benar kata – kata atau nyanyian tersebut tanpa mengerti artinya
Sebagian dari anak ini tidak berbicara (non – vebal) atau sedikit berbicara (kurang verbal) sampai usia dewasa
Senang menarik – narik tangan orang lain untuk melakukan apa yang ia inginkan, misalnya bila ingin meminta sesuatu.
b.   Interaksi Sosial
Penyandang autistic lebih suka menyendiri
Tidak ada atau sedikit kontak mata, menghindar untuk bertatapan
Tidak tertarik untuk bermain bersama teman
Bila diajak bermain ia tidak mau dan menjauh.

c.   Gangguan Sensoris
Sangat sensitive terhadap sentuhan, seperti tidak suka dipeluk
Bila mendengar suara keras langsung menutup telinga
Senang mencium – cium, menjilat mainan atau benda – benda
Tidak sensitif terhadap rasa sakit dan rasa takut.

d.   Pola Bermain
Tidak bermain seperti anak – anak pada umumnya
Tidak suka bermain dengan anak – anak sebayanya
Tidak kreatif, tidak imajinatif
Tidak bermain sesuai fungsi mainan misalnya sepeda dibalik lalu rodanya diputar – putar
Senang akan benda – benda yang berputar, seperti kipas angin, roda sepeda
Dapat sangat lekat dengan benda – benda tertentu yang dipegang terus dan dibawa kemana – mana.

e.   Perilaku
Dapat berperilaku berlebihan (hiperaktif) atau kekurangan (hipoaktif)
Memperlihatkan prilaku stimulasi diri seperti bergoyang – goyang, mengepakan tangan seperti burung, berputar – putar, mendekatkan mata ke pesawat TV, lari/ berjalan bolak balik, melakukan gerakan berulang – ulang
Tidak suka pada perubahan
Dapat pula duduk bengong dengan tatapan kosong.

f.   Emosi
Sering marah – marah tanpa alasan yang jelas, tertawa – tawa, menengis tanpa alasan
Temper tantrum (mengamuk tak terkendali) jika dilarang atau tidak diberikan keinginannya
Kadang suka menyerang dan merusak
Kadang – kadang anak berperilaku yang menyakiti dirinya sendiri
Tidak mempunyai empati dan tidak mengerti perasaan orang lain.

5.   PENGELOMPOKAN AUTISME

Autisme dikelompokkan menjadi 3, yaitu :

a.   Autisme Persepsi


Autisme ini dianggap sebagai autisme asli dan disebut autisme internal karena kelainan sudah timbul sebelum lahir.

b.  Autisme Reaksi


Autisme ini biasanya mulai terlihat pada anak – anak usia lebih besar (6 – 7 tahun) sebelum anak memasuki memasuki tahap berfikir logis. Tetapi bisa juga terjadi sejak usia

minggu – minggu pertama. Penderita autisme reaktif ini bisa membuat gerakan – gerakan tertentu berulang – ulang dan kadang – kadang disertai kejang – kejang.



c.  Autisme yang Timbul Kemudian

Tip – tip untuk mengelola penderita anak autisme, berikut ini :

Menentukan terlebih dulu masalah penyimpangan perilaku dan perilaku yang mana kira – kira yang perlu ditingkatkan
Menentukan berapa seringnya penyimpangan perilaku tersebut
Menentukan apa factor pencetus timbulnya penyimpangan perilaku tersbut
Menentukan perubahan mana yang perlu untuk meningkatkan atau mengurangi penyimpangan perilaku
Meyakinkan dan mengusahakan agar semua pihak yang terlibat ikut peduli dengan program tersebut
Memeriksa dan mengusahakan agar semua program yang direncanakan bisa berjalan dengan konsisten
Mengadakan penilaian program secara teratur dan jangan terlalu mengharapkan hasilnya dalam waktu singkat
Mengadakan modifikasi atau menghentikan program setelah hasil yang anda harapkan tercapai, ingat, beberapa jenis kelainan perilaku tidak mudah untuk diubah. Salah seorang ahli manganjurkan 3 bulan setelah program dilaksanakan baru dilakukan penilaian apakah berhasil atau gagal
Memberikan permainan rutin dan tetep merupakan jenis pengobatan bagi anak autisme, yang bisa mengurangi kecemasan dan meningkatkan rasa aman dalam dunianya
Bergaul akrab dengan penderita, menuntun dalam berjalan, misalnya waktu berekreasi juga dianjurkan oleh para professional
Pengobatan secara psikologi dan bermain termasuk yang dianjurkan.

6.   STIMULUS REFLEK MOTORIK


            Gerakan motorik anak autisme terkadang mengalami gangguan karena sensitivitas indra yang juga terganggu. Dalam banyak hal, reaksi motorik halus dan kasar anak autisme bahkan berlebihan karena persepsi anak normal. Tercatat anak autisme kerap menganggap bahwa segala sesuatu yang ditunjukkan kepadanya merupakan hal buruk yang perlu mereka hindari. Oleh karena itu mereka cenderung enggan melakukan berbagai aktivitas bermain secara normal yang memerlukan ketrampilan dan koordinasi motorik yang baik. Buruknya, refleks motorik anak disebabkan oleh rendahnya kadar prekusor seretonin yang disebut triptofan sehingga berefek pada tampilan perilaku anak yang cenderung diantaranya agresif, tantrum dan bahkan phobia terhadap berbagai benda.

Bermain pada Anak Autisme

1).  Sarana Manual


            Tuntun anak untuk menaiki sebuah kereta kecil yang ujungnya ditautkan dengan seutas tali. Kemudian tarik tali yang tertaut dengan kereta kecil tadi sehingga kereta kecil tersebut dapat bergerak maju. Berikan kesempatan kepada anak untuk bermain lebih lama jika ia menyukai permainan ini.
            Ambil sebuah papan luncur atau skate board. Tautkan tali pada salah satu sisinya lalu telungkupkan tubuh anak di atasnya dan tarik talinya perlahan sehingga skateboard dapat meluncur atau bergerak ke berbagai arah. Pergunakan papan luncur atau skateboard yang memiliki rem yang berfungsi dengan baik.
            Dudukkan anak pada kursi putar yang memiliki roda lalu putarlah kursi tersebut atau sorongkan ke arah depan dan belakang secara bergantian. Jika anak menyukai permainan ini, berikan kesempatan kepadanya untuk bermain lebih lama.
            Bimbing anak untuk menaiki balok keseimbangan lalu tuntunia untuk berjalan di atas balok tersebut. Lakukan berulang-ulang. Lakukan permainan ini hanya sesuai minat dan mood anak.
            Ulangi tehnik serupa seperti di atas, akan tetapi kali ini perintahkan anak untuk berjalan lebih cepat dari sebelumnya.
            Ajak anak untuk melompat-lompat di atas tilam yang lunak/ empuk. Jika anak menyukai permainan ini, berikan kesempatan bermain yang lebih lama.
Bimbing dan pegang tangan anak untuk berdiri di atas sebuah potongan bola kayu lalu perintahkan anak untuk menggerakkan tubuhnya agar potongan bola kayu tersebut bergerak – gerak. Bantu anak untuk mengimbangi gerakan potongan bola kayu tersebut.
            Jika memiliki mainan berupa terowongan tiruan yang terbaru dari plastik.       Mintalah kepada anak untuk masuk ke dalam terowongan tersebut lalu gulingkan terowongan ke arah kanan dan kiri secara bergantian. Lakukan hanya jika kondisi tubuh anak memungkinkan.
            Tuntun anak untuk naik ke dalam sebuah perahu mainan yang terbuat dari kayu. Gerakkan perlahan perahu kayu tadi lalu biarkan anak merasakan sensasi yang dihasilkan oleh gerakan perahu.
            Ajak anak untuk melompat-lompat di atas sebuah trampolin. Jika anak menyukai permainan ini, berikan kesempatan kepadanya untuk bermain lebih lama lagi.
            Pergunakan bola udara raksasa berdiameter 90 cm. Telungkupkan tubuh anak di atas bola lalu gerakkan bola kearah kanan dan kiri dan ke arah depan-belakang secara perlahan-lahan. Berhati-hatilah agar anak tidak terjatuh.
            Pergunakan sebuah mainan plastik berbentuk lingkaran yang bolong pada bagian tengahnya. Perintahkan anak untuk masuk ke dalam lingkaran tadi dan gulingkan lingkaran tadi ke arah depan dan belakang secara perlahan dan bergantian.
            Berikan kesempatan kepada anak untuk bermain perosotan yang banyak terdapat di taman atau sarana rekreasi lainnya. Biarkan anak bermain selama yang ia kehendaki.
            Ajak dan temani anak untuk bermain jungkat-jungkit yang terdapat di taman atau sarana rekreasi. Berikan kesempatan kepada anak untuk berinteraksi dalam permainan ini.
           

            Ajak dan berikan kesempatan kepada anak untuk menikmati bermain ayunan di taman atau sarana rekreasi. Biarkan anak bermain lebih lama jika ia menyukainya.
            Ajak dan temani anak untuk bermainayunan yang terbuat dari ban karet. Mulailah dengan ayunan yang perlahan saja. Jika memungkinkan, kecepatan ayunan dapat ditambah.
            Ajak dan bimbing anak untuk bermain bola dunia (terrestrial globe) yaitu mainan yang terdiri dari rangka besi berbentuk bola dunia yang dapat diputar. Biasanya terdapat di taman atau sarana rekreasi. Jika tidak terbiasa, akan menyebabkan pusing, sehingga lakukan perlahan-lahan saja.
            Anak juga dapat diajak bermain dengan menggunakan kursi putar yang memiliki roda pada kakinya. Berikan waktu luang kepada anak untuk bermain sesuka hati dengan kursi tersebut di bawah pengawasan orang dewasa.
            Bantu anak untuk berdiri di atas sofa lalu hadapkan dan rapatkan tubuh anak pada sandaran sofa bagian depan. Kemudian telungkupkan tubuhnya sehingga tubuh bagian atas menempel pada sandaransofa bagian depan. Jangan paksa anak jika ia tidak berminat melakukan permainan ini.

2)   Sarana Elektris


            Ajak anak berekreasi lalu sertakan anak dalam permainan kuda putar. Jika anak menyukai permainan ini, berikan kesempatan padanya untuk mencoba permainan ini beberapa kali.
            Selain permainan kuda putar, sertakan dan temani anak mengikuti permainan “cangkir kopi”, yaitu permainan yang penumpangnya duduk di dalam sebuah cangkir raksasa lalu diputar-putarkan searah jarum jam. Permainan elektris seperti ini sudah jarang ditemukan. Oleh karenanya dapat diganti permainan lain yang serupa.
            Sesekali, anak dapat pula diajak menikmati permainan lainnyaseperti piring raksasa yang digerakkan kekanan dan kakiri dengan kemiringan mencapai 30 derajat.  Permainan ini dapat ditemukan diperbagai tempat rekreasi.
            Ajak dan sertakan anak untuk bermain kereta laying dengan kapasitas 1 – 2 orang. Sesuaikan ketinggian kereta layang dengan kondisi anak. Pada sebagian anak yang sensitive, perkenalkan permainan ini secaraperlahan-lahan. Jangan dipaksakan.
            Ajak dan temani anak berjalan-jalan keliling kota dengan menggunakan sarana kendaraan umum seperti bis atau kereta api. Jika ada waktu, lakukan sesering mungkin.
            Ajak dan perkenalkan juga kepada anak cara penggunaan escalator dan lift yang terdapatdi mal-mal besardan digedung-gedung perkantoran.
            Perkenalkan anak pada mainan lainnyayang digerakkan oleh tenaga listrik. Mainan seperti ini ada yang berputar, bergoyang ke kiri dan kanan, bergerak turun naik keatas dan bawah dan terdiri dari berbagai bentuk, seperti kuda, harimau, mobil motor, hingga boneka.
            Selain diperkenalkan dengan permainan kereta layang yang berkapasitas 1 – 2 orang, perkenalkan juga permainan keretalayang yang berkapasitas lebih dari 10 orang. Umumnya, tingkat kecepatan dan ketinggian permainankereta laying jenis ini, lebih dahsyat dari kereta laying lainnya. Oleh karena itu, sesuaikan dengan kondisi mental anak.

Catatan

            Dalam melakukan permainan, respon yang diberikan setiap anak akan berbeda-beda. Oleh karena itu, diperlukan beberapa kali pengulangan dalam melakukan setiap permainan. Sesuaikan jenis permainan dengan kondisi fisik dan mental anak.
            Pada beberapa anak, dimungkinkan terjadi respons buruk berupa perilaku agresif atau hiperaktif. Untuk itu, diperlukan kehati-hatian dalam menyertakan anak dalam setiap tehnik permainan.
            Pastikan kondisi kesehatan anak cukup atau sangatbaik untuk dibawa atau diajak kesarana rekreasi. Hindari kemungkinan anak tersesat atau lepas dari pengawasan orang tua.


7.   DIAGNOSA KEPERAWATAN



I.    Hambatan komunikasi berhubungan dengan kebingungan terhadap stimulus.

Hasil yang diharapkan :

Anak mengkomunikasikan kebutuhannya dengan menggunakan kata kata atau gerakan tubuh yang sederhana,konkret bayi dengan efektif dapat mengkomunikasikan kebutuhannya

Intervensi:

  1. Ketika berkomunikasi dengan anak, bicaralah dengan kalimat singkat yang terdiri atas satu hingga tiga kata, dan ulangi perintah sesuai yang diperlukan

Rasional:kalimat yang sederhana dan diulang-ulang mungkin merupakan satu  menggembangkan tahap pikiran operasional yang konkret

  1. Gunakan irama,musik dan gerakan tubuh untuk membantu perkembangan komuniasi sampai anak dapat memahami bahasa

Rasional:gerakan fisik dan suara membantu anak mengenali integritas tubuh serta batasan batasannya sehingga mendorongnya berpisah dari objek dan oranag lain

  1. Sentuh dan gendong bayi,tetapi semampu yang dapat ditoleransi

Rasional:menyentuh dan mengendong mungkin tidak membuat bayi yang autistic merasa nyamam



II.  Resiko membahayakan diri sendiri atau orang lain berhubungan dengan rawat inap di     RS

Hasil tang diharapkan : anak memperlihatkan penurunan kecenderungan melakukan kekerasan yang di tandai oleh frekuensi tantrum dan sikap agresi atau destruksi berkurang, serta peningkatan kemampuan mengatasi frustasi

Intervensi:

1.      Sediakan lingkungan kondusif dan sebanyak mungkin rutinitas sepanjang periode perawatan di RS

Rasional:anak yang austistik dapat berkembang melalui lingkunga yang kondusif dan rutinitas,dan biasanya tidak dapat beradaptasi terhadap perubahan dalam hidup mereka.mempertahankan progam yang teratur dapat mencegah perasaan yang frustasi,yang dapat menuntun pada ledakan kekerasan





2.      Lakukan intervensi keperawatan dalam sesi sering dan singkat

Rasional: sesi yang sering dan singkat memungkinkan anak mudah mengenal perawat serta lingkungan rumah sakit

3.      Gunakan restrain fisisk selama prosedur ketika membuhtuhkannya

Rasional: ristrain fisik dapat mencegah anak dari tindakan menceridai diri sendiri

4.      Gunakan teknik modifikasi perilaku yang tepat untuk memhargai perilaku positif dan menghukum perilaku yang negative

Rasional: pemberiaan imbalan dan hukuman dapat membantu mengubah perilaku anak dan mencegah episode kekerasan

III. Resiko perubahan peran orang tua yang berhubungan dengan gangguan

Hasil yang diharapkan : orang tua mendemontrasikan keterampilan peran menjadi orang tua yang tepat yang di tandai oleh ungkapan kekewatiran mereka tentang kondisi anak dan mencari nasihat serta bantuan

Intervensi:

  1. Anjurkan orang tua untuk mengekpresikan perasaan dan kekewatiran mereka

Rasional: membiarkan orang mengekpresikan perasaan dan kekewatiran mereka tentang kondisi kronis anak membantu mereka beradaptasi terhadap frustasi dengan lebih baik, suatu kondisi yang tampaknya cenderung meningkat

  1. Rujuk orang tua kekelompok pendukung autisme setempat dan kesekolah kusus jika diperlukan 

Rasional: kelompok pendukung memperbolehkan orang tua menemui oaring tua dari anak yang menderita autis untuk berbagi informasi dan memberi dukungan emosional. Sekolah keahlian kusus menyediakan lingkungan kondusif untuk mengimplementasi terapi modifikasi perilaku



8.  KESIMPULAN


            Autisme adalah anak yang mengalami gangguan berkomunikasi dan berinteraksi social serta mengalami gangguan sensoris,pola bermain dan emosi. Penyebabnya karena antar jaringan otak tidak sinkron. Ada yang maju pesat, sedangkan yang lainnya biasa-biasa saja. Penyebab autisme sangat kompleks, tak lepas dari factor genetika dan lingkungan social.

            Terapi penyembuhan yang diterapkan dilakukan dengan berbagai varian tehnik, diantaranya tehnik belajar dan bermain yang dapat dilakukan secara vebal maupun non verbal, dengan melibatkan orang tua dan ada juga yang tidak.

            Inti dari sejumlah terapi tersebut dimaksudkan untuk mengeliminir berbagai symptom yang diperlihatkan oleh seorang anak autisme yang tentunya dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan tingkatan sindrom yang disandang anak.




DAFTAR PUSTAKA

Handojo Y, MPH, Dr, DR, Autisma, PT. Bhuana Ilmu Populer, Jakarta. 2004

Kompas, 2 Maret 2005, hal. 9

Suryana Agus, Terapi Autisme Anak Berbakat dan Anak Hiperaktif, Progres. Jakarta. 2004

Wijayakusuma H.M. Hembing. Prof, Psikoterapi anak Autisms. Pustaka Populer O



artikel di dapat dari :
dr. Suparyanto, M.Kes

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Autisme"